Beranda | Artikel
Prinsip-prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 9): Mendengar dan Taat Kepada Pemerintah
9 jam lalu

Ketujuh, mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin dalam perkara yang ma’ruf

Di antara prinsip dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyikapi para penguasa kaum muslimin adalah mendengar dan menaati mereka dalam perkara yang ma’ruf.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan nasihat yang sangat menyentuh kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum hingga mata mereka berlinang air mata dan hati mereka bergetar, lalu mereka berkata,

يا رسول الله كأنها موعظة مودع، فأوصنا

“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat dari seseorang yang hendak berpisah. Maka berilah kami wasiat.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang akan memimpin kalian adalah seorang budak Habasyah. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup setelahku, niscaya akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk lagi lurus.” (HR. Abu Dawud no. 4607)

Maksud “mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak” adalah janganlah meremehkan penguasa. Sebab, yang terpenting bukan dilihat dari pribadinya ataupun nasabnya. Meskipun ia adalah seorang budak sekali pun, yang paling penting adalah kemampuan dan kedudukannya, yaitu mampu dalam memimpin kaum muslimin.

Maka, hormatilah ia dan patuhlah kepadanya dengan mendengar dan taat. Janganlah kalian menyelisihinya agar keamanan tetap terjaga, urusan menjadi mudah, musuh-musuh dapat ditundukkan, dan kaum muslimin bisa bersatu.

Al-Jama’ah tidak akan tegak kecuali dengan imamah/kepemimpinan, dan kepemimpinan tidak akan tegak kecuali disertai sikap mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpegang pada prinsip berjihad bersama pemerintah. Demikian pula, mereka melaksanakan salat Jumat dan salat berjamaah di belakangnya meskipun ia adalah seorang yang fasik, sebagaimana dahulu para sahabat pernah salat di belakang para penguasa.

Mereka tidak meninggalkan salat di belakang pemimpin tanpa alasan yang dibenarkan, hanya karena pemimpin tersebut melakukan maksiat. Sebab, sebesar apa pun kekurangan dan kemaksiatan yang dilakukannya selama tidak sampai pada kekufuran, pelakunya tidak serta-merta dihukumi kafir.

Karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang kondisi para penguasa pada akhir zaman yang akan mengalami perubahan dan melakukan penyimpangan, para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya,

أفلا ننابذهم يا رسول الله

“Wahai Rasulullah, tidakkah kami memerangi mereka?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ

“Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah-tengah kalian.” (HR. Muslim no. 1855)

Dalam hadis lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti yang jelas tentangnya dari Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 7056)

Demikianlah sikap dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap pemimpin. Mereka mendengar dan menaatinya, melaksanakan salat di belakangnya, dan berjihad bersamanya.

Adapun kepemimpinan dapat diperoleh melalui baiat dari ahlul halli wal ‘aqdi (orang-orang yang memiliki kapasitas dan kedudukan untuk menetapkan atau mengikat keputusan dalam urusan pemerintahan), kemudian masyarakat berbaiat kepada mereka melalui penunjukan dari pemimpin sebelumnya kepada orang yang akan menggantikannya atau ketika seseorang berhasil menguasai pemerintahan hingga masyarakat tunduk kepadanya.

Inilah sistem Islam dalam terbentuknya kepemimpinan. Bukan melalui pemilihan umum dan pilihan rakyat sebagaimana sistem yang digunakan orang-orang kafir pada zaman sekarang dan diadopsi oleh sebagian kaum muslimin.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mencela para pemimpin mereka dalam majelis-majelis, ceramah, ataupun khutbah mereka. Sebaliknya, mereka mendoakan para pemimpin di atas mimbar, baik pada hari Jumat maupun pada kesempatan lainnya, agar Allah memberikan kebaikan dan petunjuk kepada mereka. Sebab, kebaikan seorang pemimpin akan membawa kebaikan bagi kaum muslimin. Sebaliknya, kaum Khawarij dan Mu’tazilah enggan mendoakan para pemimpin, bahkan mengingkari doa bagi para pemimpin. Sikap semacam ini merupakan penyimpangan kaum Khawarij yang ditolak oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Demikianlah beberapa ringkasan mengenai bagaimana prinsip akidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Penulis memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar memberikan kepada kita semua pemahaman terhadap jalan yang benar, serta meneguhkan kita di atas petunjuk dan agama-Nya.

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه، إنك سميع الدعاء

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai sesuatu yang benar dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai sesuatu yang batil dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar segala doa”

Washallallahu wasallama ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 8

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hlm. 32 – 34.


Artikel asli: https://muslim.or.id/117155-prinsip-prinsip-manhaj-ahlus-sunnah-wal-jamaah-9.html